Paradigma Pendidikan Abad 21

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

“Paradigma Pendidikan Abad 21”

 

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas akhir

Mata Kuliah : Ilmu Pendidikan

Dosen Pengampu : Drs.Zaenal Abidin, M.Pd

 

Oleh :

Muhamad Misbachul Munir

NIM.1401418184

 

 

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2019

 

 


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karuniaNya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Paradigma Pendidikan Abad 21”. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW yang kita harapkan syafaatnya pada hari kiamat nanti.

Rasa terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu saya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik guna memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia Umum. Tidak lupa kami sampaikan terimakasih kepada bapak. Drs.Zaenal Abidin, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Ilmu pendidikan.

Harapannya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Kritik dan saran selalu kami harapkan guna memperbaiki kekurangan makalah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR…………………………………………………………… I

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………… II

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG………………………………………………………… III

B. RUMUSAN MASALAH……………………………………………………… III

C. TUJUAN………………………………………………………………………. III

 

BAB II

PEMBAHASAN

Hakikat Manusia…………………………………………………………………. .. 1

Pengertian Pendidikan…………………………………………………………… .. 2

Paradigma Pendidikan Abad 21…………………………………………………… 3

Pendidikan Abad 21……………………………………………………………….. 4

Kompetensi Guru dan  Abad 21…………………………………………………. 5

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan………………………………………………………………………. 7

Saran dan Kritik………………………………………………………………….. 8

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kehidupan manusia dari awal penciptaannya selalu mengalami perkembangan dalam segala aspek kehidupannya. Mulai dari mata pencahariaanya, tempat tinggalnya, bahkan sampai sistem kenegaraan. Yang awalnya sangat sederhana kemudian dengan berjalannya waktu semakin kompleks. Sebagai contohnya yaitu transportasi. Dahulu untuk bepergian manusia hanya bisa berjalan kaki, kemudian setelah mampu menjinakkan hewan mulailah menaiki kuda dan sebagainya. Hingga akhirnya sekarang sudah tercipta transportasi paling cepat yaitu pesawat jet.

Itu semua merupakan kelebihan yang dimiliki manusia yang tidak dimiliki makhluk lain. Berasal dari satu anugrah dari Tuhan Yang Maha Pengasih yaitu akal. Dengan akal inilah manusia bisa berkembang pesat seperti sekarang ini. Berbeda dengan hewan yang hanya diberi otak dan naluri tapi tidak diberi akal. Akal bisa membuat peradaban sampai seperti ini tidak dengan sendirinya, namun ada yang mempengaruhinya yaitu pendidikan.

Diawal kehidupan manusia memang tidak ada lembaga-lembaga formal yang mengolah pendidikan seperti sekarang ini. Namun praktek  pendidikan sudah diterapkan sejak awal kehidupan manusia. Seorang anak yang diajari ayahnya untuk berburu hewan adalah salah satu contohnya. Di abad ke 21 ini, tentunya pendidikan harus semakin kompleks. Melihat kehidupan manusia yang semakin maju.

 

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana hakikat manusia menurut para ahli?

2. Bagaimana hakikat pendidikan?

3. Bagaimana Paradigma Pendidikan abad 21?

4. Apa saja Kompetensi Guru dan Siswa di abad 21?

 

C. TUJUAN

1. Mahasiswa mampu memahami hakikat manusia

2. Mahasiswa mampu memahami dimensi-dimensi kemanusiaan

3. Mahasiswa mampu menjelaskan hakikat pendidikan

4. Mahasiswa mampu menjelaskan Pendidikan di abad 21

5. Mahasiswa mampu menjelaskan Kompetensi Guru dan Siswa di abad 21


BAB II

PEMBAHASAN

1. Hakikat Manusia

a. Pengertian manusia

Pengertian manusia dalam KBBI yaitu makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain. Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologisrohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.

Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi yang, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain.

Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok, dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

 

Menurut Mohsen Gharawiyan manusia hakiki adalah mereka yang menggunakan akalnya dalam memecahkan masalah-masalah fundamental yang dengannya manusia mengetahui jalan kehidupan yang benar.(Mohsen Gharawiyan:8)

 

Dari pendapat Prof Mohsen Gharawiyan tersebut dapat kita simpulkan bahwa manusia tidak hanya sebatas fisik biologisnya saja, akan tetapi meliputi akal dan jiwa yang tidak mampu untuk dilihat. Akal dan jiwalah yang harus selallu mendapatkan pendidikan agar semakin baik.

 

Menurut Drs.Syafril, M.Pd bahwa kata manusia berasal dari bahasa arab, yaitu kata “Man” yang artinya orang dan “nasia” yang artinya pelupa.(Syafril:2)

 

Dari pendapat Drs. Syafril dapat kita pahami bahwa sifat identik manusia adalah pelupa. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa manusia merupakan tempatnya salah dan lupa. Selanjutnya Drs. Syafril menjelaskan nama lain dari manusia yaitu:

1. Al insan

2. Al Basyar

3. Annas

4. Bani Adam

 

b. Dimensi - Dimensi Kemanusiaan

Menurut Drs.Syafril dalam bukunya ditulis bahwa dimensi-dimensi kemanusiaan dibagi menjadi 4 yaitu :

a) Dimensi Keindividualan

Manusia dari dimensi keindividualan maksudnya dilihat dari keutuhan nya (tidak terbagi) yang terdiri dari fisik dan psikis. Manusia sebagai individu bersifat unique, yaitu tiap individu memiliki ke khasan masing-masing. Meski sama-sama memilki mata, hidung, telinga akan tetapi tidak ada yang sama persis. Manusia juga punya perasaan, akal, pikiran namun tidak ada yang sama persis juga.

b) Dimensi Kesosialan

Manusia sebagai makhluk sosial terbukti dengan tidak dapatnya hidup didunia ini tanpa adanya orang lain. Sebagai contoh untuk memenuhi kebutuhan biologisnya ia memerlukan pasangan. Untuk memenuhi kebutuhan psikisnya ia memerlukan orang lain untuk bercerita. Dari pertumbuhan usianya, manusia akan selalu dituntut untuk bersosial semakin luas. Ketika masih kecil lingkupnya hanya keluarga, semakin dewasa lingkupnya bahkan sampai dunia.

c) Dimensi Kesusilaan

Dalam berinteraksi antar manusia, ada yang namanya kesusilaan. Yaitu sebuah norma yang berlaku bagi manusia saat berinteraksi. Kesusilaan merupakan ukuran baik dan buruk. Kesusilaan berhubunan dengan nilai-nilai. Nilai-nilai dijunjung oleh manusia karena memiliki kandungan kebaikan, kemuliaan dan keluhuran.

d) Dimensi Keagamaan

Tujuan dari agama adalah sebagai pegangan manusia dalam menyelami kehidupan didunia ini. Dengan berpegang kuat dengan agama yang telah disiapkan Tuhan untuk manusia, manusia akan selamat dari keburukan-keburukan yang mengancamnya. Manusia diberi agama karena manusia merupakan makhluk yang paling tidak teraratur. Kambing hanya makan tumbuhan. Macan hanya makan daging. Akan tetapi manusia akan memakan apapun yang ia suka, bahkan akan menyimpannya untuk masa masa yang belum tentu ia akan hidup.

 

2. Pengertian Pendidikan

 

Pendidikan (bahasa Inggris : education) adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.

 

Pengertian Pendidikan secara umum adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik agar secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Dalam KBBI pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalm usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan;proses,cara, perbuatan mendidik.

Sedangkan pengertian pendidikan menurut UU No 20 Tahun 2003. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Menurut UU No. 2 tahun 1989.Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

Menurut GBHN Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.

Sedangkan menurut KiHajar Dewantara, mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamtan yang setinggi-tingginya. (Ahmad Munib, 2015:34)

Menurut Hoogveld, mendidik adalah membantu anak supaya ia cukup cakap menyelenggarakan tugas hidupnya atas tanggung jawabnya sendidiri (Ahmad Munib, 2015:34).

 

Pengertian pendidikan menurut Ahmad D. Marimba adalah bimbingan atau bimbingan secara sadar oleh pendidik terdapat perkembangan jasmani dan rohani terdidik menuju terbentuknya keperibadian yang utama.(Ahmad D. Marimba:7)

3. Paradigma Pendidikan Abad 21

Masa lalu sebelum abad XXI dalam hal pendidikan untuk Indonesia dapat dibagi secara urutan waktu kurang lebih sebagai berikut: (a) zaman pra-kolonial yang lebih rinci dapat dibagi ke dalam masa prasejarah dan masa sejarah, (b) zaman kolonial ketika sistem pendidikan ‘modern’ dari Eropa diperkenalkan, dan (c) zaman kemerdekaan RI yang berlangsung hingga sekarang, sebelum dan sesudah abad XXI.

Di luar sistem persekolahan ‘modern’ seperti yang semula diperkenalkan oleh kolonialis Belanda, terdapat berbagai ‘institusi’ pendidikan dalam lingkup masyarakat-masyarakat tradisional, baik dalam keterkaitannya dengan berbagai kebudayaan etnik maupun dengan berbagai sistem pemerintahan tradisional yang dalam banyak hal juga sedikit-banyak terkait dengan etnisitas.

Data etnografi dari berbagai suku bangsa menyebutkan betapa tugas pendidikan itu dikenali, meski tidak selalu diwadahi dalam suatu organisasi sosial tertentu, namun tugas pelaksana pendidikan itu diamanatkan oleh kebudayaan yang bersangkutan. Dapat disebutkan contoh bahwa pada suku bangsa tertentu di Irian, adalah tugas ibu untuk memberi pelajaran pertama dalam hal berburu dan meramu di hutan kepada anaknya.

Pelaksanaan berbagai ritus peralihan (rites de passage) dari suatu status ke status selanjutnya dalam rute kehidupan setiap orang (misalnya dari anak ke remaja, dari remaja ke dewasa, dari belum kawin ke kehidupan dalam pertalian perkawinan, dan lain-lain)

Paradigma diartikan sebagai alam disiplin intelektual, yaitu cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan memengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktek yang diterapkan dalam memandang realitas kepada sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual.

Dengan pengertian-pengertian di atas, Paradigma Pendidikan dan Paradigma Pendidikan Nasional dapat dirumuskan sebagai berikut ini: ”Paradigma pendidikan adalah suatu cara memandang dan memahami pendidikan, dan dari sudut pandang ini kita mengamati dan memahami masalah-masalah pendidikan yang dihadapi dan mencari cara mengatasi permasalahan tersebut” (BSNP:6)

 

4. Pendidikan Abad 21

Abad 21 merupakan abad pengetahuan, abad dimana informasi banyak tersebar dan teknologi berkembang. Karakteristik abad 21 ditandai dengan semakin bertautnya dunia ilmu pengetahuan, sehingga sinergi diantaranya menjadi semakin cepat. Dalam konteks pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di dunia pendidikan, telah terbukti dengan semakin menyempit dan meleburnya faktor “ruang dan waktu” yang selama ini menjadi aspek penentu kecepatan dan keberhasilan ilmu pengetahuan oleh umat manusia (BSNP, 2010).

Abad 21 juga ditandai dengan banyaknya (1) informasi yang tersedia dimana saja dan dapat diakses kapan saja; (2) komputasi yang semakin cepat; (3) otomasi yang menggantikan pekerjaan-pekerjaan rutin; dan (4) komunikasi yang dapat dilakukan dari mana saja dan kemana saja (Litbang Kemdikbud, 2013).

Pendidikan Nasional abad 21 bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat bangsa Indonesia yang sejahtera dan bahagia, dengan kedudukan yang terhormat dan setara dengan bangsa lain dalam dunia global, melalui pembentukan masyarakat yang terdiri dari sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu pribadi yang mandiri, berkemauan dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsanya (BSNP, 2010).

P21 (Partnership for 21st Century Learning) mengembangkan framework pembelajaran di abad 21 yang menuntut peserta didik untuk memiliki keterampilan, pengetahuan dan kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran dan inovasi serta keterampilan hidup dan karir (P21, 2015). Framework ini juga menjelaskan tentang keterampilan, pengetahuan dan keahlian yang harus dikuasai agar siswa dapat sukses dalam kehidupan dan pekerjaanya.

5. Kompetensi Guru dan  Abad 21

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”

Standar kompetensi guru mencakup kompetensi inti guru yang dikembangkan menjadi kompetensi guru PAUD/TK/RAguru kelas SD/MI, dan guru mata pelajaran pada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK*.

a. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Sub kompetensi dalam kompetensi Pedagogik adalah :

1) Memahami peserta didik secara mendalam yang meliputi memahami peserta didik dengan memamfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.

2) Merancang pembelajaran,teermasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran yang meliputi memahmi landasan pendidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.

3) Melaksanakan pembelajaran yang meliputi menata latar ( setting) pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.

4) Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan denga berbagai metode,menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level), dan memamfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.

5) Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya meliputi memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan memfasilitasipeserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.

 

b. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Sub kompetensi dalam kompetensi kepribadian meliputi :

1) Kepribadian yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.

2) Kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etod kerja sebagai guru.

3) Kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemamfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.

4) Kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadappeserta didik dan memiliki perilaku yangh disegani.

5) Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputibertindak sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

 

c. Kompetensi Profesional
Kompetensi Profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.

1) Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung pelajaran yang dimampu.

2) Mengusai standar kompentensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang dimampu.

3) Mengembangkan materi pembelajaran yang dimampu secara kreatif.

4) Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.

5) Memanfaatkan TIK untuk berkomunikasi dan mengembangakan diri.

 

d. Kompetensi Sosial
Kompetensi Sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

1) Bersikap inkulif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial keluarga.

2) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat.

3) Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah RI yang memiliki keragaman social budaya.

4) Berkomunikasi dengan lisan maupun tulisan.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pengertian Pendidikan secara umum adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik agar secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

 

B. Kritik dan Saran

Dalam pembuatan makalah ini tentu masih banyak kekurangan. Kritik dan saran sangan saya harapkan agar dalam penulisan makalah berikutnya bisa lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

BSNP. (2010). Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI.

https://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2013/06/paradigma-pendidikan-nasional-abad-xxi.pdf

Gharawiyan, Mohsen.2012.Pengantar Memahami Buku Daras Filsafat Islam.Jakarta:Sadra Press

https://play.google.com/books/reader?id=seZ1DwAAQBAJ&hl=id&pg=GBS.PR1

Syafril dan Zelhendri Zen.2017.Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan.Jakarta:Perpustakaan Nasional

https://play.google.com/books/reader?id=4IGWDwAAQBAJ&hl=id&pg=GBS.PA18

UU No. 2 tahun 1989

http://hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_2_89.htm

Litbang Kemdikbud. (2013). Kurikulum 2013: Pergeseran Paradigma Belajar Abad-21. Retrieved September 29, 2015, from

http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/index-berita-kurikulum/243-kurikulum-2013-pergeseran-paradigma-belajar-abad-21

Komentar