Macam-macam Aliran Pendidikan

  

MAKALAH

ILMU PENDIDIKAN ALIRAN PENDIDIKAN

Untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah   : Ilmu Pendidikan

    Dosen :

 

Di Susun Oleh :

 

Muhamad Mibachul Munir  (1401418184)

Sofia Nafiatu Sholikha  (1401418200)

Rombel  D

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2019

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Aliran Pendidikan ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari Bapak Drs. H.A. Zaenal Abidin,M.Pd. pada mata kuliah Ilmu Pendidikan. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang Aliran Pendidikan bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. H.A. Zaenal Abidin, M.Pd. selaku dosen mata kuliah Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.

Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

PEMBAHASAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemikiran dan praktek pendidikan dari dulu sudah mengalami perkembangan menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sosial budaya yang ada di masyarakat. Dari berbagai pemikiran tentang pendidikan bersamaan dengan perkembangannya memunculkan adanya aliran-aliran pendidikan.

Aliran-aliran pendidikan tersebut muncul akibat adanya problem regenerasi keturunan manusia. Secara historis perkembangan aliran pendidikan dapat  dijumpai dari berbagai literatur. Bahkan sejak zaman yunani kuno tercatat bahwa aliran pendidikan muncul untuk memperbaiki martabat kemanusiaan. Dan tentu saja disetiap aliran pendidikan tersebut mengandung muatan yang sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga generasi berikutnya mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari generasi sebelumnya.

Pemahaman tentang aliran pendidikan tentulah penting bagi seorang pendidik, dan juga bagi calon pendidik yang hendak memahami hakikat pendidikan yang sedang berkembang. Karena aliran pendidikan merupakan hasil dari pemikir-pemikir pendidikan yang memiliki pengaruh, sehingga tidak mungkin untuk diabagikan begitu saja.

Pemahaman terhadap pemikiran-pemikiran yang bagi seorang pendidik tentunya dapat memperluas wawasan historis tentang pendidikan dan juga dapat mempertajam analisis mengaitkan antara pendidikan di masa lalu dengan masa sekarang. Dengan pemahaman tersebut, juga dapat menjadi pijakan dan menangkal kekelitrtuan dalam mendidik. Karena sekecil apapun kesalahan dalam praktek medidik berdampak buruk bagi generasi penerus dengan waktu yang relatif panjang.

Pengaruh dari aliran-aliran pendidikan sudah terbukti dalam kehidupan, bahkan pengaruhnya sudah meluas di benua eropa dan amerika. Sehingga wajar apabila banyak aliran pendidikan baik itu klasik maupun gerakan baru muncul dari kedua benua tersebut.

Setiap aliran pendidikan memiliki pandangan yang berbeda terkait dengan perkembangan manusia. Hal tersebut karena setiap aliran memliki pijakan yang berasal dari faktor - faktor dominan yang tidak sama. Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan macam-macam aliran klasik dan gerakan baru dalam pendidikan.

B. Rumusan Masalah.

1. Apa saja macam-macam aliran klasik pendidikan?

2. Apa saja macam-macam gerakan baru dalam pendidikan?

 

C. Tujuan.

Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan  aliran-aliran pendidikan yang berkembang dalam peradaban manusia. Sehingga  dapat dijadikan bekal ketika menjadi seorang pendidik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan bersala dari kata didik yang memiliki makna “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui usaha pengajaran dan pelatihan.

Menurut Hoogveld, mendidik adalah membantu anak supaya ia cukup cakap menyelenggarakan tugas hidupnya atas tanggung jawabnya sendidiri (Ahmad Munib, 2015:34).

Sedangkan menurut KiHajar Dewantara, mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamtan yang setinggi-tingginya. (Ahmad Munib, 2015:34)

Dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dari seorang pendidik untuk membimbing dan membantu perkembangan seorang anak untuk mencapai kehidupan yang baik didunia dan akhirat.

B. Aliran-aliran Pendidikan

Didalam makalah ini akan dijelaskan macam dari aliran klasik, pergerakan baru pendidikan dan aliran pokok pendidikan di indonesia.

a. Aliran klasik.

b. Aliran Empirisme.

Aliran ini diprakarsai oleh seorang ahli filsuf berkebangsaan inggris yang rasionalis bernama John Locke (1632-1704). Aliran ini bertentang dengan Locken tradition yang lebih mengutamkan perkembangan manusia dari segi empiris yaitu melihat dari sisi ekternal yang dapat diamati secara langsung dan mengabaikan pembawaan dari sisi internal manusia (Umar Tirtarahardjo, 2000:194)

Secara etimologis bahwa empiris adalah pengalaman, jadi menurut aliran ini bahwa pengalaman adalah sember pengetahuan, sedangkan bakat dianggaap tidak ada. Menurut aliran empirisme manusia yang baru lahir bagaikan kertas putih yang masih kosong, sehingga pendidikan berperan penting dalam menentukan nasib manusia kelak. Karena itu John Locke menganjurkan dalam pendidikan di sekolah didasarkan pada rasionya bukan perasaan. Pendidikan menurut John Lock adalah membentuk pribadi anak menjadi sesuai keinginannya (Ahmad Munib, 2015:99) sebab itulah aliran ini juga disebut aliran optimisme. Perkembangan anak semuanya dipengaruhi oleh pengalamn dan lingkungan pendidikannya.

Tentu saja aliran ini berat sebelah dalam melihat keberhasilan mendidik, karena hanya melihat dari sisi pengalaman saja tanpa mempertimbangkan faktor internal anak. Karena dapat kita amati bahwa keberhasilan juga dipengaruhi oleh faktor bawaan anak sejak lahir, seperti emosional, kecerdasan akal dll. Namun, meskipun begitu, penganut aliran ini masih tetap beranggapan bahwa manusia dapat dimanipulasi karena menurut mereka keberadaan manusia adalah pasif.

1. Aliran Nativisme.

Kata Nativus berasal dari bahasa latin yang berarti terlahir. Menurut teori ini perkembangan manusia didasarkan pada pembawaan manusia sejak lahir. Aliran Nativisme merupakan kebalikan dari aliran sebelumnya yaitu aliraan empirisme. Tokoh dari aliran ini salah satunya adalah Arthur schoupenhaeur (1788-1860). Ajaran dari aliran ini adalah bahwasannya perkembangan manusia berdasarkan pada apa yang dibawa dari lahir, yaitu berupa bakaat.

Aliran ini juga disebut dengan aliran psimistik, karena menganggap bahwa anak yang berbakat tidak baik tidak perlu diberi pendidikan agar baik karena ia tetap tidak baik. Begitu juga sebaliknya, anak yang berbakat baik tidak perlu dididik, karena mnurut ajaran ini anak yang berbakat baik tidak akan terjerumus kepada hal-hal yang tidak baik.

Padahal dapat kita lihat, bahwa banyak dari maanusia yang memiliki kemiripan dengan orang tua nya, akan tetapi pembentukan karakternya tidak hanya pembawaan dari lahir, namun juga bersal dari banyak faktor lain. Meskipun begitu penganut aliran ini tetap meyakini bahwa perkembangan anak akan sesuai pembawaan sejak lahir, sehingga pendidikan adalah membiarkan anak berkembang sesuai pembawaaannya.

2. Aliran Naturalisme

Pandangan yang ada persamaannya dengan aliran nativisme adalah aliran naturalisme (Umar Tirtarahardjo, 2000:197). Aliran ini berkembang pada abad ke 18 yaitu tahun 1712-1778 dipelopori oleh tokohnya yaitu JJ Rousseau yang mengamati pendidikan kemudian menuliskannya dalam bukunya yang diberi judul “Emile”. Menurutnya semua anak dilahirkan dalam keadaan baik, akan tetapi sebab pengaruh manusia (masyarakat) dapat membuatnya menjadi tidak baik.

Aliran ini berpendapat bahwa pendidikan itu hanya memberikan kesempatan manusia untuk berkembang sesuai pembawaanya sejak lahir. Perkembangan anak hendaknya diserahkan kepada alam.  Pendidikan hanya sekedar menjaga anak agar tidak terpengaruh terpengaruh keburukan dari masyarrakat. Sejak remaja anak harus diajarkan tentang moral dan agama.

Rosseau berpendapat bahwa lebih baik menunda sebuah pengajaran dari pada cepat-cepat melaksanakannya hanya karna ingin menanamkan suatu aturan tertentu (Ditjen Dikti, 1983/84:37). pernyataan ini menunjukan bahwa proses pendidikan tidak dapat dilakukan secara coba-coba.

3. Aliran Konvergensi.

Aliran ini semakin dikenal setelah aliran empirisme dan nativisme semakin sedikit pengikutnya. Tokohnya adalah William stern (1871-1938). Aliran ini berpendapat bahwa yang mempengaruhi perkembangan anak adalah dari bakat, pembawaan, lingkungan dan pengalaman. Sehingga aliran ini merupakan gabungan dari 2 aliran sebelumnya.

Konvergensi menurut KBBI artinya keadaan menuju pada satu titik pertemuan. Jadi aliran menurut aliran ini perkembangan manusia adalah hasil dari perpaduan antara faktor internaal dan ekternal. Menurut William Stern pendidikan dapat dilakukan untuk membantu anak mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, yang mebatasi perkembangan anak adalah pembawaan dan lingkungannya.

C. Gerakan-Gerakan Pendidikan

1. Pembelajaran Alam Sekitar

Dasar pemikiran yang terkandung di dalam pengajaran alam sekitar adalah bahwa peserta didik akan mendapat kecakapan dan kesanggupan baru dalam menghadapi dunia kenyataan. Di dalam pendidikan hal ini dapat ditanamkan pemahaman, apresiasi, pemanfaatan lingkungan alami dan sumber-sumber pengetahuan di luar sekolah yang semuanya penting bagi perkembangan peserta didik. Penjelajahan sesorang dalam menemukan hal-hal baru, baik untuk pengetahuan, olahraga, maupun rekreasi menjadikan program pendidikan alam sekitar dipandang sangat penting.

Melalui penjelajahan yang dilakukan, maka sekarang peserta didik, menghayati secara langsung tentang keadaan alam sekitar. Belajar sambil mengerjakan sesuatu dengan serta merta memanfaatkan setiap waktu senggang. Hal ini sangat penting bagi para ahli pendidikan/ guru/ pembimbing dalam merencanakan dan membantu peserta didik agar dapat mengalami kehidupan nyata, memiliki ketrampilan dan apresiasi, sehingga dapat hidup kreatif berdasarkan pemahaman terhadap kemanusiaan serta sumber-sumber alami. Pendidikan alam sekitar ini mudah dilaksanakan di segala jenjang pendidikan. Hanya saja konsekuensinya, dalam persiapan perlu dipikirkan tentang biaya ketika akan diadakan penjelajahan seperti halnya biaya transportasi, biaya hidup selama penjelajahan, penginapan dan sebagainya.

Ada beberapa kelebihan dari model pembelajaran alam sekitar :

1) Dengan pengajaran alam sekitar,  guru dapat memperagakan secara langsung sesuai dengan sifat-sifat atau dasar-dasar pengajaran.

2) Pengajaran alam sekitar memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya agar anak aktif giat tidak hanya duduk, dengar, dan catat saja.

3) Pengajaran alam sekitar memungkinkan untuk memberikan pengajaran totalitas

4)  Pengajaran alam sekitar memberikan kepada anak bahan apresiasi intelektual yang kukuh dan tidak verbalitas, dan

5) Pengajaran alam sekitar memberikan apresasi emosional, karena alam sekitar mempunyai ikatan emosional dengan anak.

 

Meskipun demikian, ada pula kelemahan dari model pendidikan alam sekitar ini, diantaranya ialah:

1) Karena model pendidikan ini tidak hanya membutuhkan buku, dan pengajar. Namun ada faktor lain yang di perlukan. Seperti halnya lingkungan sekitar dan juga peraga serta atribut penunjang lainnya. Sehingga model pendidikan ini membutuhkan biaya yang lebih banyak.

2) Model pendidikan ini juga membutuhkan kontrol dan pengawasan yang lebih ketat. Karena peserta didik belajar tidak hanya di dalam ruangan, sehingga hambatan yang ada di luar sangat mungkin terjadi.

3) Sangat bergantung pada cuaca, karena lokasi yang biasa digunakan dalam model pendidikan ini lebih cenderung ke  alam sekitar yang berada di arena luar ruangan, sehingga bila cuaca yang kurang mendukung, seperti hujan atau terlalu panas, hal tersebut akan sangat mempengaruhi pembelajaran yang berlangsung.

4) Karena lokasi yang lebih luas dari pembelajaran di dalam ruangan, itu berarti sangat memungkinkan waktu yang dibutuhkanpun akan lebih banyak dengan objek kajian  yang lebih banyak.

 

2. Pengajaran Pusat Perhatian

Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Davids Declory (1871-1932) dari Belgia dengan pengajaran melalui pusat-pusat minat (center dinternet), disamping pendapatnya tentang pengajaran global. Pendidikan menurut Declory berdasar pada semboyan ecois pour ia vie, par la vie (sekolah untuk hidup dan oleh hidup). Anak harus dididik untuk dapat hidup dalam masyarakat dan dipersiapkan dalam masyarakat, anak harus diarahkan.Oleh karena itu, anak harus mempunyai pengetahuan terhadap diri sendiri (tentang hasrat dan cita-citanya) dan pengetahuan tentang dunianya (lingkungannya, terdapat hidup di hari depannya). Pengetahuan anak harus bersifat subjektif dan objektif. Pendapat Decroly mengenai pendidikan dan pengajaran

a. Metode global (keseluruhan)

b. Centre d’interst (pusat-pusat minat)

Anak-anak mempunyai minat spontan terhadapa diri sendiri dan diri sendiri itu yang dibedakan menjadi :

a) Dorongan mempertahankan diri

b) Dorongan mencari makan dan minum

Sedangkan terhadap masyarakat :

a) Dorongan sibuk main-main

b) Dorongan meniru orang

 

Asas-asas Pengajaran Pusat Perhatian:

a. Pengajaran ini didasarkan atas kebutuhan anak alam hidup dan perkembangannya

b. Setiap beban pengajaran harus merupakan keseuruhan, tidak mementingkan bagian tetapi mementingkan keberartian dari keseluruhan ikatan bagian itu

c. Hubungan eseluruhan itu adalah hubungan simbiosis

d. Anak dodorong dan dirangsang untuk selalu aktif dan didik untuk menjadi anggota masyarakat yang dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab

e. Harus ada hubungan kerjasama yag erat antara rumah dan keluarga.

 

3. Sekolah Kerja

George Kershensteiner (1854-1932) adalah seorang guru ilmu pasti yang kemudian diangkat menjadi inspektur di Munchen. Ia banyak menulis karanga tentang arbeitsshule (sekolah kerja) di Jerman. Sekolah kerja ini bertolak dari pandangan bahwa pendidikan itu tidak hanya demi kepentingan individu tetapi berkewajiban menyiapakn warga negara yang baik, yakni:

1) Tiap orang adalah pekerja dalam salah satu lapangan jabatan

2) Tiap orang wajib menyumbangkan tnaganya untuk kepentingan negara

3) Dalam menunaikan kedua tugas tersebut haruslah selalu diusahakan kesempurnaannya, agar dengan jalan itu tiap warga negara ikut membantu mempertinggi dan menyempurnakan kesusilaan dan keselamatan negara.

Menurut G.Kereschensteiner tujuan sekolah kerja adalah

a. Menambah pengetahuan anak, yaitu pengetahuan yang dididapat dari buku atau orang lain, dan yang didapat dari pengalaman sendiri

b. Agar anak dapat memiliki kemampuan dan kemahiran tertentu

c. Agar anak dapat memiliki pekerjaan sebagai persiapan jabatan dalam mengabdi negara

Kereschenteiner berpendapat bahwa kewajiban utama sekolah adalah mempersiapkan anka-anak untuk dapat bekerja. Karena banyaknya macam pekerjaan yang menjadi pusat pelajaran, maka dibagi menjadi tiga golongan besar:

a. Sekolah-sekolah perindustrian

b. Sekolah-sekolah perdagangan

c. Sekolah-sekolah rumah tangga, bertujuan mendidik para calon ibu yang diharapkan akan menghasilkan warga negara yang baik

Pengikut G.Kereschensteiner antara lain: Leo de Paeue, seorang dirjen pengajaran normal di Belgia. Ia membuka lima sekolah kerja

1) Sekolah teknik kerajinan

2) Sekolah dagang

3) Sekolah pertanian bagi anak laki-laki

4) Sekolah rumah tangga kota

5) Sekolah rumah tangga desa

 

Dasar-dasar sekolah kerja

1) Di dalam sekolah kerja anak aktif berbuat

2) Pusat kegiatan pendidikan dan pengajran ialah anak

3) Sekolah kerja mendidik anak menjadi pribadi yang berani berdiri sendiri dan bertanggungjawab sebagai anggota masyarakat yang baik

4) Bahan pelajaran disusun dalam suatu keseluruhan yang berpusat pada masalah kehidupan

5) Sekolah kerja tidak mementingkan pegetahuan yang bersifat hafalan atau hasil peniruan, melainkan pengetahuan fungsional dan dapat dipergunakan untuk berprakarsa, mencipta dan berbuat

6) Pendidikan kecerdasan tidak dapat diberikan dengan memberitahukan atau menceritakannya kepada anak melainkan anka sendiri yang harus menjalani proses berfikir sesuai dengan tingkat perkembangan anak

7) Sekolah kerja merupakan suatu bentuk masyarakat kecil yang didalamnya anak-anak mendapatkan latihan dan pengalaman yang amat penting artinya bagi pendidikan moral, soail, dan kecerdasan

 

Macam-macam Sekolah Kerja

1) Sekolah kerja sosiologis

2) Sekolah kerja psikologis

3) Sekolah kerja sosiologis-psikologis

Sekolah kerja yang lebih menekankan pengembangan kepribadian anak. Gerakan sekolah kerja dapat dipandang sebagai titik kulminasi dari pandangan-pandangan yang mementingkan pendidikan keterampilan dalam pendidikan. J.A Comenius (1592-1670) menekankan agar pendidikan mengembangkan pikiran, ingatan, bahasa, dan tangan (keterampilan kerja tangan) J.H Pestalozzi (1746-1827) mengajarkan bermacam-macam mata pelajaran peryukarab disekolahnya. Namun yang sering dipandang sebagai bapak sekolah kerja adalah G. Kerchensteiner, menurut G. Kerchensteiner tujuan sekolah kerja adalah :

1) Menambah pengetahuan anak, yaitu pengetahuan yang didapat dari buku atau orang lain.

2) Agar anak dapat memiliki kemampuan dan kemahiran tertentu

3) Agar anak dapat memiliki pekerjaan sebagai persiapan jabatan dalam mengabdi negara.

 

4. Pengajaran Proyek

Proyek pengajaran berarti kegiatan, sedangkan belajar mengandung arti kesempatan untuk memilih, merancang, berlatih memimpin dan sebagainya. Dalam hal ini, penting ialah bahwa peserta didik telah aktif memecahkan persoalan, maka wataknya akan terbentuk. Demikian konsep pemikiran WH Kilpatrick di dalam pengajaran proyek. Ia menanamkan pengajaran proyek sebagai salah satu  kesatuan tugas yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan secara teratur dikerjakan bersama-sama dengan kawan-kawannya. Setiap proyek harus jelas arti sosialnya. Menurut Kilpatrick, dengan tetap duduk di bangku masing-masing, maka pembentukan watak para peserta didik tidak dapat terlaksana. Walaupun cara pengajaran proyek berlainan sekali dengan keadaan sekarang, tetapi bila metode ini dirancang dengan sebaik-baiknya maka pada saat inipun masih dapat diterapkan.

 

D. Aliran Pokok Pendidikan di Indonesia

1. Perguruan Kebangsaan Taman Siswa

Pada jaman Pemerintahan Hindia Belanda, ada salah seorang putera Indonesia yang bernaman Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia gemar menulis dengan menggunakan bahasa Belanda yang halus dan mengandung sindiran terhadap pemerintah Belanda. Selama itu sindiran yang dianggap paling tajam oleh pemerintah Belanda adalah tulisannya yang berjudul : Alks ik een Nederlander was yang artinya Andai saja saya seorang Belanda. Dari tulisannya dianggap tajam oleh pemerintah Belanda inilah ia dibuang ke negeri Belanda.

Perguruan Kebangsaan Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, ( Lahir 2 Mei 1889 dengan nama Suwardi Suryaningrat ) pada tanggal 3 Juli 1932 di Yogyakarta, yakni dalam bentuk yayasan, selanjutnya mulai didirikan taman Indira ( Taman kanak-kanak ) dan Kursus Guru, selanjutnya Taman muda ( SD ), disusul Taman Dewasa merangkap Taman Guru ( Mulo-Kweekschool ).  Sekarang ini telah dikembangkan sehingga meliputi pula taman Madya, Prasarjana, dan Sarjana sarjana Wiyata. Dengan demikian Taman Siswa telah meliputi semua jenjang persekolahan.

 

Asas dan Tujuan Taman Siswa :

Perguruan Kebangsaan taman Siswa mempunyai tujuh asas perjuangan untuk menghadapi pemerintah colonial Belanda serta sekaligus untuk mempertahankan kelangsungan hidup bersifat nasional, dan demokrasi. Ketujuh asas tersebut dikenal dengan “asas 1922” , sebagai berikut :

1) Bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri ( Zelf Besschikkingsrecht ) dengan mengingat terbitnya persatuan dalam peri kehidupan umum.

2) Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekakan diri.

3) Bahwa pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.

4) Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat.

5) Hidup dengan kekuatan sendiri.

6) Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan ( Zelfbegrotings-system ).

7) Berhamba pada anak didik.

 

Dalam perkembangan selanjutnya Taman siswa melengkapi  “ Asas 1922” tersebut dengan “ Dasar-dasar 1947 “ yang disebut pula “ Panca Dharma “ yaitu :

1. Asas Kemerdekaan

Asas merdeka untuk mengatur dirinya sendiri. Seseorang itu merdeka untuk mengantar dirinya sendiri dengan wajib mengingat kedamaian dan keterlibatan dalam kehidupan bersama. Kemerdekaan dalam cipta, rasa dan karsa. Pendidik harus membimbing peserta didik menjadi manusia yang biasa mencari sendiri pengetahuan dengan menggunakan pikiran, perasaan, dan kemauan. Hendaknya setiap peserta didik dapat berkembang menurut kodrat dan bakatnya. Perintah dan hukuman dalam mendidik hendaknya ditiadakan, namun mereka dididik dengan sistem among atau tut wuri handayani.

2. Asas Kebudayaan

Dalam hal ini kebudayaan Indonesia sendiri. Pendidikan harus didasarkan atas kebudayaan sendiri agar peserta didik jangan cepat terpengaruh oleh kebudayaan yang datang dari luar.

3. Asas Kerakyatan

Pendidikan dan pengajaran harus diberikan kepada seluruh rakyat.

4. Asas Kekuatan Sendiri (berdikari)

Taman siswa menolak bantuan yang mungkin dapat mengikatnya baik secara lahir maupun batin. Dengan demikian segala pembelanjaan dicukupi dengan uang pendapatan sendiri. Oleh karena itu, di dalam kehidupan harus berhemat.  

5. Asas Berhamba kepada Anak

Para pendidik dalam mendidik anak hendaknya dengan sepenuh hati, tulus, ikhlas dengan tidak terikat pada siapapun dan oleh apapun juga.

 

Tujuan Perguruan Kebangsaan Taman Siswa adalah :

1) Sebagai Badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat tertib dan damai.

2) Membangun anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir batin, luhur akal budinya, serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas keserasian bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya.

 

Upaya-upaya pendidikan yang dilakukan Taman siswa :

Di lingkungan perguruan, untuk mencapai tujuannya Taman Siswa berusaha dengan jalan sebagai berkut :

1. Menyelenggarakan tugas pendidikan dalam bentuk perguruan dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi.

2. Mengikuti dan mempelajari perkembangan dunia di luar Taman Siswa.

3. Menumbuhkan lingkungan hidup keluraga Taman Siswa, sehingga dapat tampak wujud masyarakat Taman Siswa yang dicita-citakan.

4. Meluaskan kehidupan ke Taman Siswa-an di luar lingkungan masyarakat perguruan.

5. Menjalankan kerja pendidikan untuk masyarakat umum dengan dasar-dasar dan hidup Taman Siswa

6. Menyelenggarakan usaha-usaha kemasyarakatan dalam masyarakat dalam bentuk-bentuk badan social, Usaha-usaha pembentukan kesatuan hidup kekeluargaan sebagai pola masyarakat baru Indonesia, usaha pendidikan kader pembangunan.

7. Mengusahakan terbentuknya pusat – pusat kegiatan kemasyarakatan dalam berbagai bidang kehidupan dan penghidupan masyarakat.

 

2. Ruang Pendidkan INS Kayutanam.

Ruang pendidik INS ( Indonesia Nederlandsche School ) didirikan oleh Mohammad Sjafei ( lahir di Matan, Kalbar tahun 1895 ) pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayu Tanam ( Sumatera barat ).

Asas dan tujuan Ruang Pendidik INS Kayu Tanam :

Pada awal didirikan, Ruang Pendidik INS Kayu Tanam mempunyai asas-asas sebagai berikut :

a. Berpikir logis dan rasional

b. Keaktifan atau kegiatan

c. Pendidikan masyarakat

d. Memperhatikan pembawaan anak

e. Menentang intelektualisme

Setelah kemerdekaan Indonesia, Moh. Sjafei mengembangkan asas-asas pendidikan INS menjadi dasar-dasar pendidikan Republik Indonesia, menjadi sebagai berikut :

a. Percaya dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

b. Menentang intelektualisme, aktif, giat dan punya daya cipta serta   dinamis. Siswa dididik suka bekerja dengan tangannya dan mengutamakan pelajaran ekspresi sebagai alat.

c. Memperhatikan bakat dan lingkungan siswa yaitu tiap sekolah hendak berorientasi pada lingkungan tenpat sekolah yang bersangkutan.

d. Berpikir secara rasional, bukan secara mistik.

 

Tujuan Pendidikan INS :

a) Mendidik rakyat kearah kemerdekaan

b) Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa

c) Menjadikan manusia yang selaras dengan perkembangan jasmani dan rohaninya.

d) Memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

e) Menanamkan rasa percaya diri, berkemauan keras dan berani bertanggung jawab

f) Harus dapat membiayai diri sendiri dengan semboyan “cari sendiri” dan “kerjakan sendiri”

 

Ruang pendidikan INS ada 4 tingkatan :

1) Ruang rendah atau Sekolah Dasar 7 tahun

2) Ruang antara tahun (sambungan ruang rendah)

3) Ruang dewasa 4 tahun (sambungan ruang antara atau ruang tengah)

4) Ruang masyarakat 1 tahun

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradigma Pendidikan Abad 21